[Ulasan Buku] - Kamu Tidak Salah

Menurut saya, seiring bertambahnya usia, ada satu skill yang penting untuk kita miliki namun jarang sekali dibahas: empati.

November 2019 adalah waktu di mana saya mengalami titik terendah dalam hidup. Jika saya rangkum, kira-kira seperti ini. Pertama, saya diputusin, kejadian itu terjadi sangat tiba-tiba ketika hubungan saya dan kekasih (menurut saya) sedang baik-baik saja. Kedua, kekasih saya adalah sahabat saya sejak kami duduk dibangku kelas 2 SMA. Saya kehilangan dua pribadi sekaligus yang paling berpengaruh dalam hidup saya. Ketiga, salah satu sahabat perempuan saya— orang yang saya anggap paling kenal saya — justru meremehkan perasaan saya. 


“Ngapain sih ditangisin terus?”


“Nangis tuh gak bikin dia balik lagi"


“Mendingan lo cari kegiatan, cowok kayak dia gak pantes ditangisin”

Ucapannya pada saat itu tidak membuat perasaan saya lebih baik, justru sebaliknya. 


Pengalaman tersebut jadi salah satu momentum di mana saya mulai tertarik dengan isu kesehatan mental. Tujuannya sederhana, saya tidak mau orang lain merasakan apa yang pernah saya alami, terpuruk karena merasa diremehkan perasaannya. Saya mau belajar untuk berempati dengan kondisi orang lain. Keingintahuan saya tersebut membawa saya kepada buku “Kamu Tidak Salah” karya mantan seorang psikater di Korea Selatan, Jung Hyesin. Sebagai makhluk sosial, konflik dengan orang lain adalah hal yang tidak dapat dihindari dan hal itu yang mendasari penulis membuat buku tersebut. Saya suka sekali dengan pemaparannya, makanya saya memutuskan untuk menuliskan perasaan saya di blog sebagai bentuk perenungan pribadi.


Buku ini terbagi ke dalam enam bab, yang penulis buka dengan menjelaskan bahwa pengabaian terhadap diri kita adalah akar yang membuat kita tidak baik-baik saja. Salah satu hal yang paling menyebalkan di hidup ini adalah saat mengeluarkan uneg-uneg ke orang terdekat, kemudian dihujani kalimat “Jangan berpikir begitu”, “Sabar, sabar, jangan marah-marah”, atau “Kamu seharusnya bersyukur, kejadian ini akan membuatmu jadi dewasa”.  Bisa dibayangkan dampak 'diremehkan' atau 'adu nasib' ketika ketika sedang curhat ke orang lain bukan? Rasa sedih, kecewa, atau marahnya tidak hilang, justru menyesal sudah cerita ke orang tersebut. 


Lantas, apa yang bisa kita lakukan ketika sedang dihadapkan dalam situasi tersebut? Pada bab dua, penulis menuliskannya dengan baik. Yang pertama dan utama yang bisa dilakukan adalah dengan berempati. Penulis sendiri menyebut empati sebagai “CPR Psikologis” atau metode pertolongan pertama dalam keadaan darurat kesehatan jiwa. Untuk bisa menerapkan empati seseorang harus memahami dengan baik terlebih dahulu apa yang sebenarnya disebut empati. Menurut Jung Hyeshin, empati bukanlah kemampuan merasakan perasaan orang lain, namun kemampuan menerima dan memahami perasaan merekalah yang disebut dengan empati.


Jung Hyeshin menuliskan di awal bab bukunya;


Satu pertanyaan sederhana “Bagaimana perasaanmu hari ini?” tanpa sadar dapat menjadi pertolongan pertama dalam kesehatan mental atau kita sebut saja CPR Psikologis.” (Halaman 75–76).


Saya sepakat dengan penulis, ketika kita sedang curhat dengan orang lain sesepele apapun permasalahannya, yang kita butuhkan hanyalah dipahami perasaannya. Ketika kita mau memahami orang lain, dasar pemikiran yang harus kita punya adalah bahwa selain ada pikiran dan perasaan kita, ada juga pikiran dan perasaan orang lain. Kita tidak dapat mengetahui isi pikiran dan perasaan orang lain sampai dia benar-benar mengungkapkannya kepada kita. Makanya penulis manganjurkan kita untuk bertanya terkait apa yang mereka alami. Jika dia menghindari atau enggan menjawab, kita tidak perlu khawatir. Karena yang terpenting adalah perhatian yang kita berikan saat mengajukan pertanyaan tersebut, agar dia yakin keberadaan dirinya diperhatikan. Bukan pertanyaan kita yang membuat mereka bisa sembuh, tapi karena kita memusatkan perhatian kita kepadanya. 


Bab dua itu mengingatkan saya akan percakapan bersama Michael bulan Maret kemarin. Saya cerita kalau saya sedang sedih karena sahabat saya — kita sebut saja Si A — enggan bercerita tentang perasaannya. Padahal saya tahu betul ia begitu sedih dan takut karena kematian neneknya. Saat itu Michael mengingatkan saya bahwa peran saya sebagai sahabat adalah memastikan dia baik-baik saja, soal dia bercerita atau engga, itu bukan jadi kewajibannya. Meskipun pahit, saya mengamini perkataan Michael, bisa jadi saya kesal dengan Si A karena ego saya yang tersentil karena merasa tidak dianggap atau tidak dipercaya untuk menjadi tempat curhat sahabat saya. 


Pada bab-bab selanjutnya penulis menceritakan indikator mengenai empati, bahwa empati bukan tentang reaksi emosional, juga bukan tentang mengangguk-angguk agar terlihat paham dengan kondisi orang tersebut. Empati juga bukan harus merasakan emosi yang sama, melainkan menerima dan memahami perasaan yang orang itu alami. Kita juga bisa berempati terhadap perasaan orang meski tidak setuju dengan tindakannya. Kenapa penting untuk berempati dengan perasaannya lebih dulu? Penulis menekankan bahwa sesuatu yang paling dibutuhkan seseorang ketika mereka sangat putus asa dan tidak berdaya adalah penerimaan akan keberadaan dirinya dan afirmasi bahwa "kau tidak salah" atau "kau memiliki alasan yang kuat untuk melakukannya".


“Ketika mendengarkan lubuk hati seseorang, kita seharusnya tidak mengemukakan kata-kata yang mengandung saran, nasihat, penilaian, atau bahkan penghakiman karena secara mengejutkan, itu hanyalah mengandung kekerasan psikologis.” (Halaman 350).


Banyak hal yang ingin saya garis bawahi dari buku ini. Ada banyak hal yang juga membuka mata saya bahwa yang lebih sulit ketimbang berempati pada orang lain adalah berempati kepada diri sendiri. Kunci untuk seseorang bisa berempati kepada orang lain adalah mengenali emosi diri secara sepenuhnya. Jangan sampai disaat yang bersamaan mental kita juga sedang tidak baik-baik saja karena masalah yang dihadapi sendiri. Toh, pada dasarnya adaptasi adalah naluri kita sebagai manusia. Pada akhirnya, kebahagiaan dan ketidakbahagiaan yang dirasakan adalah tanggung jawab kita sendiri. 

Buku ini bukan mengajarkan saya untuk jadi sok tahu tentang kesehatan mental atau justru jadi membatasi diri saya ketika berinteraksi dengan orang lain, melainkan membantu dalam menavigasi emosi sehingga saya mampu merespon orang lain dengan baik. 
 Jika kamu berpikir bahwa kamu juga memerlukannya, kamu bisa membaca bukunya dan saya sangat merekomendasikannya untuk dibaca orang lain lebih luas lagi.

 


Comments

Popular posts from this blog

[Ulasan Buku] - Museum Teman Baik

Barangkali

Memaknai Hidup