[Ulasan Buku] - Museum Teman Baik
Perasaan saya hangat ketika membahas tentang pertemanan. Kata mama, selain keluarga, pertemanan adalah salah satu bukti nyata kasih Tuhan terhadap manusia. Sisanya, cara saya melihat pertemanan sangat dipengaruhi cara beliau memaknai persahabatan itu sendiri. Sejak duduk di bangku menengah atas, mama selalu meminta saya memperkenalkan teman-teman ke rumah, katanya ingin mengenal saya melalui pergaulan saya. Tapi, seiring bertambahnya usia, ketika masing-masing dari kita tidak lagi duduk di ruang kelas yang sama, yang irisannya hanya karena terlanjur nyaman, apakah teman masih menjadi satu hal yang bermakna? Bagi sebagian mungkin tidak, tapi saya tumbuh karena dan bersama sahabat karib saya.
Ketika mendengar POST Press ingin menerbitkan buku soal pertemanan, saya menanti dengan perasaan sukacita dan berakhir dengan menimbang-nimbang naik surutnya pertemanan saya sendiri. #MuseumTemanBaik adalah antologi yang bercerita tentang dinamika pertemanan di usia dewasa. Buku ini gak cuma menggambarkan indahnya persahabatan yang membuat hidup terasa lebih ringan, tapi juga menunjukkan sisi lain ketika pertemanan akhirnya berkesudahan dan sialnya hidup harus tetap berjalan.
Ada sepuluh bab yang mayoritas ceritanya dekat dengan kehidupan saya. Seperti "Soak 33" yang ditulis oleh Sri Izzati. Tulisannya mengingatkan saya kepada sahabat yang saya kenal di sekolah menengah pertama. Mereka adalah sahabat-sahabat perempuan pertama saya. Kami satu kelas selama tiga tahun, semakin erat karena suku yang sama dan rumah yang berdekatan. Tidak ada satu momen penting pada masa itu yang luput dari kehadiran kami masing-masing, bahkan ketika akhirnya lulus dan tidak lagi di satu sekolah yang sama, jarak bukan persoalan yang perlu dicari jalan keluar. Sampai akhirnya memasuki masa kuliah, kami mulai kesusahan mengatur waktu, ada banyak hal yang berlalu dan mulai ada orang lain yang mengganti. Seperti hubungan sepasang kekasih, ketika komunikasi tidak memadai, kami mulai menemukan kerikil-kerikil kecil yang berakar dari ketidaksepakatan: soal memaknai hubungan, tentang memilih karir, bahkan pandangan iman yang membuat kami tidak lagi merasa nyaman berjalan beriringan.
Saya pikir, pertemanan dalam rentang waktu yang panjang sering kali menipu. Kami pikir kami paling tahu jalan pikirannya, karakternya, keinginannya, padahal kami hanya enggan berkata jujur karena takut menimbulkan gesekan. Durasi pertemanan yang lama membuat kami (setidaknya saya) takut terhadap perbedaan, menolak mengakui kesalahan, mengabaikan fakta bahwa masing-masing kami tumbuh dengan cara yang beragam.Sri Izzati mengajak saya kembali merenungi pertanyaan, apakah mungkin saya tidak lagi mengenal mereka? Apakah mereka masih relevan dengan kehidupan saya? Apakah kami hanya sedang berpegang pada satu memori yang sama — sembilan tahun kebersamaan — untuk dapat mempertahankan persahabatan yang sudah terlanjur lama?
Sementara itu, "Kau Beruntung Menikahi Sahabatku" yang ditulis oleh Bageur Al-Ikhsan mengingatkan saya bahwa ada banyak jenis kasih di dunia, yang gak melulu bersifat agape, tapi juga filia—kasih persahabatan. Di usia saya yang baru saja melewati seperempat abad, soal teman-teman menikah tentu tidak dapat terhindarkan. Saya jadi ingat obrolan bersama Andi dan Addrian tempo hari di Haka Dimsum Kemang. Saya bercerita kalau saya secara tidak sengaja mendengar teman dekat saya akan menikah dan saya masih belum tahu kebenarannya. Dalam keadaan menangis, saya masih harus menyimak dua laki-laki di depan saya saling melempar banyak kemungkinan alasan yang setidak-tidaknya untuk saat ini belum saya butuhkan jawabannya. Saya hanya bertanya-tanya apa yang sebenarnya saya rasakan? Sedih karena merasa tidak dianggap atau pedih karena memikirkan kemungkinan terbesar yang akan terjadi di depan "Apakah hubungan kami akan tetap sama?"
Mungkin, saya hanya takut kehilangan apa yang sudah lama saya jaga: ngobrol ngarul ngidul tanpa takut dicurigai, saling curhat di iMessage sampai pagi, foto dan bikin video lalu membagikannya di media sosial kami. Mungkin, saya hanya cemas karena takut ditinggal dan bukan menjadi siapa-siapa lagi. Namun, jika memang benar-benar kejadian, tentu saya akan turut senang. Saya gak bisa membayangkan setulus apa kasih yang ia terima sampai membuat teman saya yang paling keras kepala itu mengambil langkah yang besar. Semoga, semoga Ia memelihara apa yang kamu rencanakan dan soal pertemanan kita, biarlah, saya selalu percaya teman selalu saling menemukan.
Lain cerita, "Pada Suatu Senin" karya Reda Gaudiamo mengingatkan saya bahwa pertemanan yang layak dirayakan gak melulu muncul dari kedekatan yang telah berhasil diuji waktu. Bisa jadi, ia berasal dari orang-orang yang di sekitar kita, yang hadir bukan karena kita memilih mereka, tapi dipertemukan oleh ikatan profesional di tempat kerja. Reda, mengingatkan saya akan teman-teman kantor lama di Lengua. Kehidupan kami mungkin beririsan karena hanya mengerjakan deck yang sama, tapi di masa-masa yang berat itu, memiliki mereka yang turut bersumpah serapah bersama racauanmu adalah hal yang paling berharga. Saya bersyukur, meski sudah tidak lagi di kantor yang sama, kami masih saling terhubung, obrolan chat kami tidak kalah berisik dengan obrolan chat kantor baru dan kami sesekali masih nongkrong sampai pagi. Menyenangkan bukan memiliki orang yang gak melulu tahu detail kehidupan kita, tapi kehadirannya bisa memberikan perasaan hangat entah hingga kapan.
Antologi Museum Teman Baik adalah salah satu teman diantara teman-teman yang saya ceritakan di atas. Selesai membacanya, ia memberikan rasa pengakuan itu, bahwa apa yang saya alami itu normal, seperti pertemanan yang kerap tidak tertahankan dan terkadang itu bisa baik-baik saja. Perasaan takut kehilangan dan juga rasa syukur karena menemukan pertemanan kecil yang justru berharga. Mungkin benar apa yang orang-orang bicarakan, kalau setiap orang memang punya masanya sendiri dan masa selalu punya orang-orangnya sendiri.
Brilliantđź’–đź’–
ReplyDelete