Posts

Showing posts from December, 2018

Empat Sore di Ruang Tamu

Pada Sabtu sore di ruang tamu keluarga, mama sedang minum kopi hitam dengan biskuit kaleng untuk hari natal yang ia beli dari temannya. Di sampingnya ada radio tua yang usianya mungkin menyamai usiaku. Radio usang itu sedang memperdengarkan lagu yang tak kuketahui penyanyinya. Aku duduk menghampiri mama, dan mengganggunya dengan sebuah pertanyaan  "Mama, apakah biji-biji kopi mampu menghibur mereka yang sedang bersusah hati?" mama menjawab dengan menceritakan bahwa dulu opung membesarkan mama dan saudara-saudaranya dengan biji kopi hasil menanam, merajut siang dengan kepulan asap cairan hitam. aku bertanya lagi, "apakah petikan gitar, bunyi seruling dan kecapi dapat menjadi babi-babi bagi mereka yang perutnya lapar?" mama menjawab, manusia tidak hidup dari apa yang masuk ke dalam mulutnya saja. aku belum berhenti, dan masih bertanya lagi "apakah baju dan celana mampu membungkus mereka yang jiwanya sedang berputus asa?" mama menjawab, setidak-ti...

Segala Sesuatu Ada Waktunya

Image
di sini sudah pukul sembilan malam kopiku hampir habis namun bacaan untuk ujian esok tidak kunjung rampung  ternyata rindu adalah malam-malam dengan penuh kegelisahan dan cinta hanyalah persoalan pengulangan mencintaimu dengan bungkam mendoakanmu dalam diam mengharapkanmu untuk paham ternyata cinta juga bisa  begitu membosankan sebab kau hanya datang dalam bait-bait  yang kendatinya  tak pernah  kau baca  kekasih,  aku tak mau memaksa karena aku percaya segala sesuatu ada waktunya jika Tuhan bertamu dan mengetuk pintu rumahku menungguku mengucapkan pinta akan kusampaikan bahwa aku hanya ingin  mencintaimu dengan merdeka yang tidak lagi dijajah rasa ingin bersama sebab aku percaya segala sesuatu ada waktunya

Tidak Menemukan Judul

Terkadang hidup kita bisa menjadi begitu sepi dan berharap bisa bertemu dengan seseorang yang bisa membuat hati terasa lebih hangat. Seseorang yang bisa memberikan sapa bahkan sebelum matahari benar-benar beranjak dari tidurnya, sehingga semangat untuk menjalani hari. Seseorang yang bisa diajak bicara mengenai apa pun, yang lucu-lucu, yang serius hingga yang remeh-temeh, hingga seseorang yang bisa membuat kita jatuh cinta berkali-kali, berdecak kagum dan mensyukuri seolah itu berkat terindah.  Adakala cinta menjadi kata yang asing, meski begitu sering menyentuh telinga dan mudah diucapkan oleh bibir.   Memang, apa arti cinta yang sebenar-benarnya? mengapa manusia terkadang tak henti-hentinya mencari, dan menggantungkan kebahagiaan pada orang yang dicinta? Iya, benar tidak ada yang salah dari terus mengharapkan orang terbaik, tetapi sudah benarkah kita memprioritaskan fokus hidup kita untuk menemukan kekasih di atas segalanya?  Apa yang aku dan kau punya?...

Tomas dan Elina.

Cerita ini merupakan potongan dari sebuah tulisan lama yang sepertinya tidak akan pernah selesai. Perjalanan Kelima Museum Layang-layang. Aku dan Tomas sampai pada pukul satu siang. Jika dilihat dari gerbang masuk, museum ini tidak terlau besar, tetapi jika sudah masuk ke dalamnya, terdapat halaman yang luas dan asri. Museum ini begitu unik, lantai yang terdapat di halaman dibuat berwarna-warni dengan berbagai bentuk layang dan juga berbagai warna. Selesai membayar tiket, aku dan Tomas ditemani oleh seorang pemandu yang membantu kami dalam menjelaskan sejarah dan latar belakang layang-layang. Berdasarkan informasi dari Pak Toto ⸺ sang pemandu, Museum Layang-layang ini memiliki empat bangunan tradisional khas Jawa yang memiliki fungsinya masing-masing, dan dikelilingi dengan pepohonan besar yang menambah kesejukan. Aku dan Tomas terus mengikuti Pak Toto. Saat memasuki area museum, terdapat sebuah bangunan yang disebut dengan pendopo putih. Bangunan tersebut digunakan seb...

Sebuah Pesan Singkat untuk Kekasih

Teruntuk kau, jangan lemah dan layu, sebab aku mencintaimu dengan sekuat-kuatnya aku. 

November dan Percakapan yang Belum Usai

Image
Kofitiere Semarang, Indonesia Sedang mencoba mengingat sebuah kesempatan yang membawa aku dan kau pada percakapan yang tak pernah ada muaranya. Entah, aku lupa kapan, dan malam ini di tengah-tengah tersiksanya badan karena tugas, aku memilih menuliskannya untuk tujuan yang kutaktahu apa.  Mungkin untuk sebuah konten belaka, atau (lagi-lagi) untuk menyembuhkan luka dengan cara yang bijaksana. Sore itu, aku datang menghampirimu seusai kelas. Kau sedang duduk dimeja favoritmu *setidaknya menurut anggapanku*. Aku bermain dengan handphoneku dan kau dengan buku yang menjadi teman favoritmu. Kau memang bukan seorang verbal, sulit sekali membuka percakapan. Aku pun hanya diam, tak mau memulai. Hingga beberapa menit setelahnya, raut wajahmu mulai gelisah, dan kau bertanya "Apakah cinta bisa membuat orang lain tersiksa?" Aku tersenyum mendengar pertanyaan bodohmu. Di depan mataku, kau pertama kalinya tersiksa oleh cinta. Sebentar, aku hanya ingin memastikan. Adakah c...