Posts

Showing posts from January, 2020

puisi rindu

kau di jendela, pukul empat lewat lima, mengetuk kaca, mencubit raga. aku dengar suaramu yang agak serak, dalam kelengangan yang sesak, memanggilku dari tidur nyenyak. jangan keburu pergi, matahari belum selesai mandi, aku mau bangun dan membayar semua sepi, bercumbu hingga lupa diri. Journey of Healing, Day 11 Jakarta, 28 Januari 2020.

Percakapan dengan seseorang

"Jangan mengenang, nanti kau mengerang." ucap seorang kawan malam ini. "Sudah kubilang, jangan melawan. Kau perlu mencoba, indahnya mencintai dengan keras kepala." jawabku padanya. Journey of Healing, Day 10 Senin, 27 Januari 2020.

Pesan untuk Kekasih.

Untuk kekasih, selain harus hidup dengan dua bilik jantung, selain mencumbui bayangan, dan mencandui kenangan, apalagi yang bisa kuperbuat untuk bertahan menghadapi kenyataan dengan sisa-sisa kita yang melekat di sekujur tubuhku? andai kaudengar, selain harus hidup dengan ribuan mimik samaran, selain menertawai kegetiran, dan menangisi kemujuran, apalagi yang bisa kuperbuat untuk menghadapi kenyataan dengan sisa-sisa kita yang melekat di sepanjang ibu kota? Journey of Healing, Day 9 Jakarta, 20 Januari 2020.

Sunyi

aku suka kesunyian, mereka yang bekerja tanpa keriuhan. aku suka tangan ayahku, tidak berisik, menghasilkan buah. aku suka doa ibuku, lembut, meluluhkan hati Tuhan. aku suka pikiran guruku, liar, memberikan pengajaran. aku suka malam dingin di luar, sunyi. teh manis hangat dan minyak telon, sunyi. aku suka pagi cerah di luar, sunyi. nasi uduk dan segelas kopi, sunyi. aku suka sepeda yang melaju mengelilingi kota, sunyi. aku jari-jari yang menari di atas kertas, sunyi. aku suka kesunyian, karena kekasih mencintaiku dalam keheningan. aku suka cara kekasihku mengartikan cinta, tidak terburu-buru, menorehkan warna. aku suka cara kekasihku menorehkan warna, tidak tergesa-gesa, meneduhkan. tapi kali ini aku tidak mau bungkam, biar saja, rindu ini perlu dilepaskan. cinta ini perlu diungkapkan. Journey of Healing, Day 8 Jakarta, 19 Januari 2020.

Hari-hari setelah kau pergi

tisu habis. kantung mata. wajah muram. hilang berat badan. gelas-gelas kopi. mimpi buruk. buyar fokus. nada-nada minor. perjalanan panjang. puisi-puisi basi. rasa bersalah. hal-hal yang belum aku mengerti namun kau terlanjur bungkam, angkat kaki. pesan-pesan yang tersimpan di draft. doa-doa yang dipanjatkan. permintaan maaf. rasa rindu. Journey of Healing, Day 7 Jakarta, 18 Januari 2020.

Journey of Healing (Day 6)

Aku merasa telah menyingkirkanmu, dari bunga tidur untuk duduk di  beranda rumah menyesap teh hangat, mendengar tetes-tetes hujan yang jatuh dibalik genting rumah, berdialog menunggu pelangi yang warnanya muncul disela-sela atap rumah warga. Ternyata hati ini masih dangkal dan telah ribuan hari jadi pembual penggal-penggal cerita kebahagiaan  dari buku yang kubaca hanya omong kosong belaka. Sudahlah,  tak ada guna semua  pelarian. Kau harus memaafkan lembaran film itu kalau berani, meremas-remas hingga mereka semua hancur. Aku harus berhenti menuliskanmu  ke dalam puisi, karena cerita yang hadir  melulu tentang hati  yang mendidih. Aku mesti rehat beradu dengan bayang masa lalu tidak enak kepada pembaca selalu disuguhkan sisi gelap  tentang cinta. Ruko-ruko di selatan Jakarta aku kunjungi kembali,  s emata-mata hanya untuk menemukan jejak kaki kita yang melangkah  berirama, dan tangan yang saling bertautan di bawah matahari ...

Journey of Healing (Day 5)

sendirian itu melelahkan, sayang. lalu, mengapa bersama tidak kau jadikan pilihan?

Journey of Healing (Day 4)

Pada suatu malam di kota yang berbahagia kau berucap "seingin-inginnya angan, hanya mau kau menyisakan ruang di antara banyak kelas dihatimu." Aku menggumam. Kau yang terlalu mencintaiku, atau kau yang terlalu takut menjadi yang dilupakan? Pada suatu malam di kota yang tidak berbahagia aku berlisan "kau, Tuhan mengabulkan doamu." Kini, giliranku. Aku berlutut serendah-rendahnya "di antara hujan berkat, semoga kau di dalamnya; menyapaku "Hai, apa kabar? Aku rindu." Aku tersenyum. Berdamai dengan keadaan, mengasihi seluas-luasnya. Harapan Kecil untuk Kekasih. Jakarta, 11 Januari 2020

Journey of Healing (Day 3)

+ Kamu pernah patah hati? - Aku kira semua orang yang punya hati, lambat laun akan mengalaminya. + Bagaimana kamu menanganinya? - Maksudmu? Menangani patah hati? + Iya. - Aku akan mengambil jarak sejauh mungkin. + Sejauh apa? - Bukan. Ini bukan tentang aku pergi ke tempat lain yang sangat jauh. Aku hanya perlu meninggalkan semua tentang dirinya. Memutus apa pun yang berkaitan tentang dirinya. + Maksudnya? Kamu tidak mau bersentuhan lagi dengan apa pun yang bisa menghubungkanmu dengan dirinya? Bahkan berbicara dengannya sebagai teman yang mengenal dirimu lebih dari orang lain? - Ya, seperti itu. + Termasuk denganku? - Kenapa kamu nanya tentang patah hati kepadaku? Kamu berencana mengakhiri hubungan kita? + Bukan, aku kan hanya bertanya. Jawab saja pertanyaanku. - Tidak selalu. Semua tergantung. + Ternyata kamu bisa sangat kejam saat patah hati, ya. - Oh ya? Memang apa yang kamu lakukan untuk menangani patah hati? + Aku bisa...

Dia dan Saya

Kami bertengkar lalu berbaikan. Lalu kami baik-baik saja. Saya yang lebih sering marah-marah. Dia yang minta cium. Saya cerita dia mendengarkan. Saya bertanya, dia bernyanyi. Saya lapar dia nyuapin. Dia lapar, saya minum kopi. Dia ke rumah saya, saya ke rumahnya. Dia adalah rumah saya. Dia nangis saya peluk. Dia peluk, soalnya saya yang minta. Dia gemuk saya sayang. Dia kurus saya sayang. Kami makan malam bareng-bareng. Lalu kami sama-sama masih kangen. Saya kuliah dia ngechat. Dia rapat saya tidak ingin ditinggal. Saya sedih dia selalu menghibur. Saya bahagia karena dia ada di hidup saya. Saya baca buku dia bermain games. Dia olahraga saya tidak boleh ikut-ikutan. Dia yang memulai. Dia yang mengakhiri. Dia pergi. Tapi saya di sini. Dia bahagia, semoga saya juga. Saya sayang dia, oleh karena itu dia tidak pernah lepas dari doa-doa saya. Journey of Healing, Day 2 Juni - November, 2019.

catatan tentang kesedihan

Cinta tidak punya agama, rindu tidak memiliki keyakinan, demikian juga luka tidak bertuhan. Karena itu, kesedihan tidak punya alasan untuk berpihak kepada pemeluk agama tertentu. Mereka datang dan menimpa siapa saja yang terdorong ke hadapannya. Journey of Healing, Day 1 Jakart, 01 Januari 2020