Posts

[Ulasan Buku] - Museum Teman Baik

Perasaan saya hangat ketika membahas tentang pertemanan. Kata mama, selain keluarga, pertemanan adalah salah satu bukti nyata kasih Tuhan terhadap manusia. Sisanya, cara saya melihat pertemanan  sangat dipengaruhi cara beliau memaknai persahabatan itu sendiri. Sejak duduk di bangku menengah atas, mama selalu meminta saya memperkenalkan teman-teman ke rumah, katanya ingin mengenal saya melalui pergaulan saya. Tapi, seiring bertambahnya usia, ketika masing-masing dari kita tidak lagi duduk di ruang kelas yang sama, yang irisannya hanya karena terlanjur nyaman,  apakah teman masih menjadi satu hal yang bermakna? Bagi sebagian mungkin tidak, tapi saya tumbuh karena dan bersama sahabat karib saya. Ketika mendengar POST Press ingin menerbitkan buku soal pertemanan, saya menanti dengan perasaan sukacita dan berakhir dengan menimbang-nimbang naik surutnya pertemanan saya sendiri.  #MuseumTemanBaik adalah antologi yang bercerita tentang dinamika pertemanan di usia dewasa. Buku ini...

[Ulasan Buku] - Kamu Tidak Salah

Menurut saya, seiring bertambahnya usia, ada satu skill yang penting untuk kita miliki namun jarang sekali dibahas: empati. November 2019 adalah waktu di mana saya mengalami titik terendah dalam hidup. Jika saya rangkum, kira-kira seperti ini. Pertama, saya diputusin, kejadian itu terjadi sangat tiba-tiba ketika hubungan saya dan kekasih (menurut saya) sedang baik-baik saja. Kedua, kekasih saya adalah sahabat saya sejak kami duduk dibangku kelas 2 SMA. Saya kehilangan dua pribadi sekaligus yang paling berpengaruh dalam hidup saya. Ketiga, salah satu sahabat perempuan saya— orang yang saya anggap paling kenal saya — justru meremehkan perasaan saya.   “Ngapain sih ditangisin terus?” “Nangis tuh gak bikin dia balik lagi" “Mendingan lo cari kegiatan, cowok kayak dia gak pantes ditangisin” Ucapannya pada saat itu tidak membuat perasaan saya lebih baik, justru sebaliknya.  Pengalaman tersebut jadi salah satu momentum di mana saya mulai tertarik dengan isu kesehatan mental. Tujuannya...

Hello Blogger~

Saya hendak tidur, ketika menulis catatan ini. Tidak ada patah hati seperti curhatan-curhatan sebelumnya, hanya kerinduan untuk menulis atau barangkali karena kebosanan akibat rutinitas kerja.  Dua bulan terakhir saya memiliki pengalaman baru— melakukan business trip hampir setiap minggunya di kota yang berbeda bersama orang-orang baru. Sebagai orang yang tidak suka berpergian, kerja di luar kota dengan orang yang tidak saya kenal (tentunya juga tidak mengenal saya) merupakan mimpi buruk. Benar saja, saya harus mengatasi mabuk perjalanan saya seorang diri, mengurus badan yang sakit sambil tetap mengatur pekerjaan. Di tengah caurnya jam kerja, ada satu buku yang menarik perhatian saya, berjudul Indonesia Dari Pinggir, karya jurnalis Fatris MF yang tak asing namanya. Buku ini saya temukan di Post Santa, toko buku mungil di tengah pasar yang memiliki sejarah manis pada masanya. Buku ini menemani saya bekerja di Malang, tentang perjalanan Fatris bermain ke Indonesia bagian timur. Penga...

Seperempat Abad

Twitter, akhir-akhir ini sedang ramai membicarakan tweet soal flexing . Keributan dimulai oleh cuitan seseorang yang meminta warganet menceritakan pencapaian mereka. Begini kira-kira bunyinya: "Please pamerin ke aku semua kepunyaan duniawi dari hasil jerih payah dan keringat kalian. I am happy to see hard working people get things they want." Sejak tulisan ini terbit, tweet tersebut sudah mendapatkan 6.227 retweets, 9.595 quote tweets, 25.400 likes, dan 236 komentar yang isinya tentu saja tidak melulu menjawab pertanyaan si pembuat tweet, alih-alih mengomentari pencapaian orang lain yang sebagian besar berupa barang yang baru bisa dibeli entah barang masa kecil yang tidak tergapai karena ekonomi keluarga atau barang yang dibeli karena bagus saja bukan pencapaian karir, wawasan, atau sejauh apa kita menjalani dan mendalami hobi kita.  Meskipun sudah secara sadar menolak narasi standar pencapaian yang harus dimiliki orang usia 25 tahun, saya sedikit tersentil membaca jawaban wa...

Catatan Soal Me Time

Image
Sama Dengan Coffee, Kalibata Saya memiliki minggu-minggu yang berat dalam satu bulan terakhir. Energi saya seolah-olah hanya cukup untuk bekerja dan menyelesaikan pekerjaan rumah mengingat keputusan ibu untuk tidak lagi memakai IRT sejak ayah meninggal demi mengurangi pengeluaran bulanan. Dalam rentang waktu tersebut saya juga sedang jarang berkomunikasi dengan teman yang biasanya rutin bertemu satu sampai dua kali dalam sepekan untuk sekadar ngopi setelah kerja atau makan malam. Saya merasa sendirian, namun juga enggan beromong-omong dengan teman. Suatu waktu saya bertanya kepada rekan kerja aktivitas yang mereka lakukan pada akhir pekan saat tidak sedang berkumpul dengan teman atau keluarga, bahasa kerennya me time. Dari banyaknya jawaban, saya belum pernah me time ke salon selain potong rambut bulanan— keharusan alih-alih rutinitas menyenangkan— karena rambut saya kering dan bercabang. Tanpa banyak pertimbangan saya memutuskan pergi ke salon untuk me time sebagai destinasi awal. * O...

Hari-hari di kedai kopi.

Image
Pada tahun kedua di bangku SMA, saya sedang keranjingan bermain Instagram. Pada saat itu Instagram sudah berusia lima tahun sejak pertama kali muncul di Indonesia. Tertinggal jauh memang, maklum, karena pada tahun tersebut saya baru bisa memiliki handphone yang mumpuni untuk mengakses media sosial.  Pada tahun yang sama pula, saya mulai berani nongkrong di luar dari "rumah teman" dengan tujuan mendapatkan foto yang bagus untuk diunggah di Instagram pribadi. Pengaruh besarnya tentu saja dari foto-foto yang saya lihat di Instagram. Kalau kalian familiar dengan nama-nama Evita Nuh, Vetty Anggraini, Bubu Maika, dan Sonny Hosea, mereka adalah role model saya dalam menentukan tema konten yang akan saya unggah di Instagram. Kalau tidak salah ingat, mereka juga merupakan blogger angkatan pertama sebelum akhirnya Instagram benar-benar meledak dipakai oleh orang banyak. Keinginan saya disambut baik karena kebetulan saya berteman dengan orang-orang borju yang mau-mau saja diajak nongkro...

Sabtu

Sudah lama saya mengerti kalau waktu tidak punya kuasa untuk menyembuhkan dan kafe-kafe instagramable hanyalah akal-akalan korporasi yang tidak berniat membuat siapa pun menjadi lebih bahagia. Pikiran kelewat positif itu dimulai oleh orang-orang yang menganggap senja adalah waktu yang tepat untuk meratap yang seringnya lupa mandi dan malas bergerak. Ibu saya di rumah juga tahu bahwa bahagia terdiri dari tiga persoalan yang tingkat kesulitannya jauh dibandingkan ujian akhir semesteran; merasa cukup, rendah hati, mengampuni. Selain itu, fakta yang sudah diuji kebenarannya: semangkok bakmi  berisi bakso dan dikunyah dengan kerupuk pangsit punya kuasa menyembuhkan hati yang kekurangan asupan cairan empedu. Bukan waktu apalagi interior minimalist modern. Fakta lainnya yang harus dirayakan semeriah Daud yang kerasukan hingga menari-menari dan bermain kecapi: sepiring nasi hangat, dada ayam yang empuk, kulit ayam yang asin dan garing, cabai hijau, dan sebotol air dingin terbukti memancing...